Rabu, 09 Juni 2010

KEBUDAYAAN SUKU SUNDA

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

Setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.
Source : http://tamanmini.com

Mitos Gunung Kawi dan Komodifikasi Budaya

Pesarean Gunung Kawi

Hampir setiap kali penyelenggaraan diklat mata pelajaran sosiologi
dan antropologi di PPPPTK PKn dan IPS Malang, Gunung Kawi selalu
menjadi tempat bagi para peserta diklat untuk mengadakan Praktik
Penelitian Lapangan (PPL). Tujuannya adalah menggali data dan
keterangan tentang sebuah fenomena dan fakta sosial, sekaligus mitos
bahwa Gunung Kawi merupakan tempat untuk mencari kekayaan dalam
dimensi spiritual.

Gunung Kawi terletak pada ketinggian 2.860 meter dari permukaan laut,
terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan
Wonosari, sekitar 40 km sebelah barat Kota Malang. Dulu daerah ini
disebut Ngajum. Namanya berubah menjadi Wonosari karena di tempat ini
terdapat obyek wisata spiritual. Wono diartikan sebagai hutan,
sedangkan Sari berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari
dimaksudkan sebagai pusat atau tempat yang mendatangkan rezeki.
Kecamatan Wonosari memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan
jumlah penduduk 43 ribu jiwa. Tempat ini berkembang menjadi daerah
tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an.

Sebenarnya bukanlah Gunung Kawi-nya yang membuat tempat ini terkenal,
tetapi adanya sebuah kompleks pemakaman di lereng selatan yang
dikeramatkan, yaitu makam Eyang Kyai Zakaria alias Eyang Jugo, dan
Raden Mas Imam Sujono, alias Eyang Sujo. Penduduk setempat menyebut
area pemakaman tersebut dengan nama "Pesarean Gunung Kawi". Pesarean
yang terletak di ketinggian sekitar 800 m ini walaupun berada di
lereng gunung, namun mudah dijangkau, karena selain jalannya bagus,
banyak angkutan umum yang menuju ke sana. Dari terminal Desa
Wonosari, perjalanan diteruskan dengan berjalan mendaki menyusuri
jalan bertangga semen yang berjarak kira-kira 750 m. Sepanjang
perjalanan mendaki ini dapat dijumpai restoran, hotel, kios souvenir
dan lapak-lapak yang menjual perlengkapan ritual. Setelah melewati
beberapa gerbang, di ujung jalan didapati sebuah gapura, pintu masuk
makam keramat. Makam yang menjadi pusat dari kompleks Pesarean Gunung
Kawi. Makam yang menjadi magnet untuk menarik puluhan ribu orang
datang setiap tahunnya.


Mitos Pesugihan

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan
(pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa
kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul
permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan.

Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah
merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan
rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.

Mitos dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai cerita bohong, kepalsuan,
dan hal-hal yang berbau dongeng (tahayul). Dalam bahasa Inggris, myth
yang mengadopsi bahasa Latin mythus berarti penuturan khayali belaka.
Antropolog memandang mitos sebagai sesuatu yang diperlukan manusia
untuk menjelaskan alam lingkungan di sekitarnya, dan juga sejarah
masa lampaunya. Dalam hal ini, mitos dianggap sebagai semacam
pelukisan atas kenyataan dalam bentuk yang disederhanakan sehingga
dipahami oleh awam (Ruslani, 2006: 5). Namun mitos, bagi kalangan
penganut strukturalisme-fungsional juga dianggap penting karena
berfungsi sebagai penyedia rasa makna hidup yang membuat orang yang
bersangkutan tidak menjadi sia-sia hidupnya. Perasaan bahwa hidup ini
berguna dan bertujuan lebih tinggi daripada pengalaman keseharian
merupakan unsur penting dalam kebahagiaan.

Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari
Jumat Legi ( hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro
(memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan
meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam,
berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu
yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa
di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus
suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat
tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan
dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan,
antara lain:

1. Rumah Padepokan Eyang Sujo

Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang
Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai
peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah
bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak
pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu
guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan.
Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Mungkin ingin
menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki
aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri
pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini
akan membikin seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru

Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan
keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran.
Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa
disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo
menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk
mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan,
buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka
langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun
itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet.
Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan
kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan
datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.

Pejuang Diponegoro

Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo, yang dimakamkan
dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut
Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo
atau Raden Mas Iman Sudjono adalah bhayangkara terdekat Pangeran
Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh
siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian
diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke
wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat
senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan
bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah
agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan
cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan
lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka
sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak
masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke
padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo
tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap
tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke
makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam
meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo
setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan
perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini
biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para
keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya
membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun
para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji,
semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam
keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka
berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh
berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja
berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang
berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru
tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa
sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini
pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan
leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah
kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.


Ritual dalam Komodifikasi Budaya

Pada setiap malam Satu Suro (Muharram), area Pesarean Gunung Kawi
dikunjungi oleh ribuan orang peziarah dari berbagai kota dan daerah
telah berdatangan sejak sore hari. Mereka memenuhi penginapan-
penginapan yang memang banyak terdapat di daerah sekitar pesarean
(makam). Sambil beristirahat, mereka menunggu saat datangnya tengah
malam di mana berbagai upacara ritual akan diselenggarakan. Para
pedagang bunga, kemenyan, lilin, hio (dupa) dan perlengkapan sesaji
lainnya sibuk melayani para peziarah. Sementara itu beberapa ibu-ibu
menggoreng ratusan ekor ayam utuh yang dipesan para peziarah untuk
upacara sesaji malam harinya.

Seiring dengan itu pada keesokan harinya diadakan kirab sesaji dan
pembakaran patung simbol sangkala (Bathara Kala). Bencana yang terus
menerus melanda bumi Indonesia membuat masyarakat prihatin. Sikap
prihatin inipun diungkapkan dalam prosesi kirab sesaji di pesarean
Eyang Jugo dan Eyang Sujo melalui upacara pembakaran patung sangkala
atau ogoh-ogoh. Patung sangkala atau ogoh-ogoh, dikenal sebagai
simbol keangkaramurkaan dan malapetaka. Dengan dibakarnya patung ini,
diharapkan sifat keangkaramurkaan dan malapetaka bisa lenyap dari
bumi pertiwi. Prosesi kirab ini diikuti oleh seluruh elemen
masyarakat Wonosari, diawali dengan kirab sesaji dari lapangan desa
setempat kemudian diarak berjalan menuju ke pesarean. Di akhir
prosesi, patung sangkala dibakar oleh Kepala Desa Wonosari, sementara
pengusung patung, yang memakai pakaian serba hitam, menari-nari
layaknya kesetanan.

Melihat potret suasana tersebut, Pesarean Gunung Kawi lebih mirip
pasar raya dari pada sebuah kompleks pemakaman. Pertunjukan wayang
kulit, musik dangdut, serta barongsai pun ikut meramaikan suasana.
Kesan seram, angker, dan tempat mencari kekayaan yang seperti yang
dibayangkan, pada saat itu seolah tenggelam oleh hingar-bingar para
pengunjung.

Ketika zaman berubah, motif spiritual juga terus bergeser. Dengan
dalih estetika, nampaknya pihak pemerintah daerah setempat merasa
perubahan `tampilan' upacara ritual sudah merupakan kebutuhan. Dengan
diciptakannya upacara ritual yang semakin meriah. Banyak yang
bernilai jual di sana-sini. Fungsi latennya sudah bisa ditebak, yaitu
agar upacara ritual bisa lebih enak ditonton, berselera pasar, dan
selanjutnya bisa mendongkrak pendapatan daerah (marketable). Tak
peduli apakah kreasi ini meninggalkan sisi nilai-nilai ritual atau
mengabaikan makna bagi komunitas pemiliknya. Kondisi semacam ini
menurut Theodore Adorno dan Horkheimer bisa disebut sebagai
komodifikasi budaya (Agger, 2006: 179). Kedua tokoh aliran sosiologi
kritis asal Jerman ini melihat bahwa budaya di era kapital serta
industrialisasi ini telah menjelma sebagai sebuah komoditas. Artinya,
suatu fenomena budaya akan diproduksi terus menerus dan dimodifikasi
untuk memperoleh keuntungan.

Etnis Tionghoa dan Pesan Multikultural

Dengan berjalannya waktu, sekarang boleh dibilang lebih banyak
masyarakat Tionghoa yang datang berziarah daripada masyarakat Jawa
sendiri. Bahkan dalam hari-hari tertentu, seperti hari raya Imlek dan
Tahun Baru Islam, jumlah masyarakat Tionghoa yang datang berziarah
jauh lebih banyak daripada masyarakat Jawa sendiri.

Keikutsertaan warga Tionghoa dalam lingkungan perziarahan di Pesarean
Gunung Kawi sebenarnya dimulai dari seorang yang bernama Tan Kie Lam.
Pada waktu itu ia sempat diobati dan disembuhkan oleh Eyang Sujo
berkat air guci wasiat peninggalan Eyang Jugo. Kemudian, Tan Kie Lam
pun ikut berguru di padepokan gunung kawi dan tinggal di sana.
Sebagai seorang Tionghoa, ia mungkin merasa kurang pas dengan ikut
cara ritual masyarakat Jawa. Akhirnya, ia mendirikan
sebuah "kelenteng kecil"-nya sendiri untuk bersembahyang dan untuk
menghormati kedua almarhum gurunya.

Tetapi yang membuat Pesarean Gunung Kawi ini terkenal adalah seorang
Tionghoa yang kemudian menjadi pediri perusahaan rokok Bentoel -
sebuah perusahaan rokok besar yang pernah berdiri di Malang. Konon,
sang pendiri PT. Bentoel ini, ketika itu datang untuk berguru olah-
kanuragan di padepokan Gunung Kawi. Tetapi oleh sang juru kunci niat
itu ditolak dengan alasan bahwa ia tidak pantas menjadi seorang
pendekar, tetapi lebih cocok menjadi pedagang saja. Sang juru kunci
lantas menyarankan ia pulang saja, sambil membekalinya dua batang
bentoel (umbi-umbian).

Sesampai di rumah, ia berpikir bahwa oleh-oleh dua batang bentoel ini pasti
punya arti. Akhirnya, ia menggunakan Cap Bentoel sebagai merk
usahanya. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, perusahan rokok Cap
Bentoel maju pesat. Dan sebagai tanda terima kasih dan baktinya
terhadap Eyang Jugo dan Eyang Sudjo, ia membagun jalan dan prasarana-
prasarana di kompleks Pesarean Gunung Kawi tersebut.

Rupanya, kabar hubungan antara kesuksesan Rokok Bentoel dan pesarean
Gunung Kawi dengan cepat menyebar luas di kalangan masyarakat
Tionghoa. Akibatnya banyak masyarakat Tionghoa berbondong-bondong
datang ke sana. Selain mengikuti upacara ritual standar Islam-Kejawen
yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa
juga melakukan ritual tionghoanya. Segera saja klenteng kecil buatan
Tan Kie Lam dirasa tak bisa lagi menampung membanjirnya kaum Tionghoa
yang ingin bersembahyang. Untuk itu dibangunlah tiga buah kelenteng
kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam. Di ketiga
kelenteng ini diisi oleh Dewa Bumi Ti Kong, Dewi Kwan Im, dan
kelenteng khusus untuk Ciam-si (ramalan). Sering terlihat lilin-lilin
merah besar yang tingginya 2m atau lebih berjejalan memenuhi
kelenteng ini. Di atas sampul plastik lilin-lilin tersebut biasanya
tertulis permohonan dari perusahaan atau keluarga tertentu. Sedangkan
di areal pesarean dibangun sebuah masjid yang cukup megah, yang
menurut petugas pemandu merupakan sumbangan seorang konglomerat di
Indonesia.

Memang, kecuali dalam pendopo makam, di hampir semua tempat di
kompleks makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, seperti
Padepokan Eyang Iman Sujono, bekas rumah tinggal Tan Kie Lam, dan
pemandian Sumber Manggis, semuanya juga diletakkan altar ritulal khas
Tionghoa. Bahkan kedua Eyang mendapat julukan dalam bahasa Tionghoa.
Eyang Djego disebut Taw Low She atau Guru Besar Pertama, sedangkan
Djie Low She atau Guru Besar Kedua adalah sebutan untuk Eyang Iman
Sujo.

Hasil akhirnya, sekarang kompleks pesarean Gunung Kawi menjadi tempat
percampuran budaya dan ritual khas Jawa dan Tionghoa. Bagi mereka
yang pertama kali datang ke gunung kawi pastilah akan mengkerutkan
dahi melihat apa yang terjadi di sini.

Adalah menjadi pemandangan rutin di kelenteng Gunung Kawi bila
melihat seorang Jawa bersarung dan bertopi haji dengan khitmatnya
bersoja dengan hio di tangan, sementara di sampingnya seorang ibu
berkerudung sedang dengan penuh konsentrasi mengocok bambu ramalan
(ciam-si). Dan kalau diperhatikan, ternyata para `petugas kelenteng'
gunung Kawi ini pun ternyata kebanyakan adalah warga Jawa.

Pada setiap upacara perayaan ritual, setelah lepas malam, para
peziarah Jawa dan Tionghoa larut dalam kegiatannya. Mereka berjalan
berlawanan arah jarum jam mengelilingi pendopo sebanyak tujuh kali,
dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan
dan barat, sambil menghormat ke dalam makam.

Sementara itu, di dalam pendopo makam dipenuhi para peziarah Jawa dan
Tionghoa yang memiliki niatan khusus. Sambil membawa bunga dan
kemenyan, mereka dengan sabar menunggu giliran didoakan di depan
nisan oleh para asisten juru kunci. Setelah doa dalam bahasa Jawa dan
Arab digumamkan, biasanya para peziarah akan mendapat "bunga layon"
(bunga layu) yang sudah ditaburkan dari makam. Khabarnya bunga
tersebut memiliki khasiat pembawa rezeki dan pengobatan. Uniknya,
banyak peziarah yang menempatkan bunga tersebut di kantong merah dan
kuning yang bergambar lambang Pakua dan bertuliskan huruf Tionghoa.
Yang merah cocok untuk ditempatkan di tempat usaha, sedangkan yang
kuning di bawa pulang untuk digantung di dalam rumah.

Berbaurnya unsur budaya dalam sebuah ritual antara budaya Jawa dan
Tionghoa ini terlihat mencolok lagi pada peringatan Malam Satu Suro
lalu. Dalam kompleks pemakaman tersebut, tempat pertunjukan wayang
kulit dengan lakon tertentu sering dipesan oleh warga Tionghoa
sebagai hajat nadarnya. Sedangkan pada acara yang sama beberapa warga
masyarakat Jawa berpartisipasi memberikan angpau atau malah menjadi
bagian dari penari barongsai yang sedang beraksi.

Dalam kacamata budaya, ada hal yang menarik dalam fenomena ini.
Mayoritas pelaku ritual adalah penduduk asli yang berpakaian adat
Jawa Timuran sambil membawa tandu-tandu berisisi aneka sesembahan,
namun di tengah iring-iringan warga Jawa dan Tionghoa yang juga
diiringi tarian Jawa ini menyelip juga barongsai, tarian singa khas
Tionghoa. Entah apakah peristiwa semacam ini pernah terlintas di
benak oleh Eyang Jugo dan Eyang Iman Sujo semasa hidupnya. Tapi yang
jelas, upacara semacam ini dapat menjadi pemersatu antaretnis yang
membawa pesan multikultural, yakni kerukunan dan perdamaian.

Referensi

Agger, Ben. 2006. Teori Sosial Kritis. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Ruslani, 2005. Tabir Mistik Ilmu Ghaib dan Perdukunan. Yogyakarta:
Tinta.

Tjiau, Sen dan Winuranto Adhi. Gunung Kawi: dari Burung sampai Turki,
Akhirnya Bentoel. Majalah Trust. www.majalahtrust.com. 23 April 2007

Hadinoto, RM Danardono. Gunung Kawi. www.mediaindonesia.com. 20
Oktober 2004

Baehaqi, Ahmad. Mencari Berkah ke Gunung Kawi. www.news@....
13 September 2006

Soeryowidagdo. 1989. Pesarean Gunung Kawi. Malang: Yayasan Ngesti
Gondo.


*)Susvi Tantoro, S.Sos.

Teknisi pada Labdik Sosiologi

PPPPTK PKn dan IPS Malang.
__________________
May I be a protector for those who are without protectors, a guide for travelers, and a boat, a bridge, and a ship for those who wish to cross over!
May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant. (Shantideva)
resep masakan vegetarian
Golden Light Sutra / Suvarṇaprabhāsa sutra

Potret MALANG TEMPO DOELO

huhuhuhuhuhu....gpp yak klo diriku telat memberikan potret malang tempo doeloe......
kyen2 lok...nih sebagian potret2 na...yuk mariyuk cegedot...
(hiks...hiks...da jg loh yg bikin diriq trenyuh wkt visit ke sana...hmmm mrinding nginget para pahlawan)

NB: maap yak buat yg ga sengaja ikut kepampang dicini
Attached Thumbnails
potret-malang-tempo-doeloe-dscn3526.jpg potret-malang-tempo-doeloe-boeng-karnoe-poenja.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02320.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02287.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02299.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-dsc02255.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc05073.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02308.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01283.jpg potret-malang-tempo-doeloe-radio-djadoel.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-cawan-djadoel.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01232.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01256.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01254.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01257.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-dsc01249.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01264.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01269.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01284.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02333.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-dsc02315.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc02332.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc05093.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dscn3587.jpg potret-malang-tempo-doeloe-telpon-djadoel.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-uang-djadoel1.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01489.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc012791.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc123511.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc12421.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-dsc01248.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc01280.jpg potret-malang-tempo-doeloe-oeang-djadoel3.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dscn3485.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dscn3494.jpg

potret-malang-tempo-doeloe-dscn3530.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dscn3486.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc05097.jpg potret-malang-tempo-doeloe-dsc05086.jpg

Asal Usul Danau Lipan

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.

Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.

Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.

Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.

Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."

Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.

Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.

Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.

Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.

Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.

Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.


(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)

pengertian budaya,dan asal usul kebudayaan, serta macam-macam kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

“Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.” (Hlm. 2-18 alinea I)
Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

2.2. Budaya yang Hilang

Lagu Rasa Sayang-sayange diklaim oleh Pemerintah Malaysia.
Rasa Sayange atau Rasa Sayang-Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap lingkungan dan sosialisasi di antara masyarakat Maluku.
Lagu ini digunakan oleh departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan Malaysia, yang dirilis sekitar bulan Oktober 2007. Sementara Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago)[1], Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu bersikeras lagu “Rasa Sayange” adalah milik Indonesia karena ia merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di provinsi Maluku sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu adalah salah.[2].
Bagaimanapun, bukti tersebut akhirnya ditemukan. ‘Rasa Sayange1′ diketahui direkam pertama kali di perusahaan rekaman Lokananta Solo 1962. [3] Pada tanggal 11 November 2007, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Budaya Malaysia, Rais Yatim, mengakui bahwa Rasa Sayange adalah milik Indonesia [4]. Namun, ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Malaysia menyebutkan bahwa mereka mengakui bahwa Rasa Sayange adalah milik bersama, maksudnya warisan milik bersama bangsa Melayu, antara Indonesia dan Malaysia[5].
Tentang bukti rekaman “Rasa Sayange”, bukti lagu tersebut direkam oleh PT Lokananta, Solo, Indonesia pada tanggal 1962 dalam piringan hitam Gramophone [6]. Rekaman master dari piringan ini masih disimpan oleh PT Lokananta. Ini dikenal sebagai rekaman pertama terhadap lagu ini. Piringan hitam tersebut didistribusikan sebagai souvenir kepada partisipan Asian Games ke 4 tahun 1962 di Jakarta, dan lagu “Rasa Sayange” adalah salah satu lagu rakyat Indonesia di piringan tersebut, bersama dengan lagu etnis lain Indonesia seperti Sorak-sorak Bergembira, O Ina ni Keke, dan Sengko Dainang.

Desain Grafis Perak Asli Bali
Rasa terambilnya desain garafis perak asli Bali ini muncul ketika seorang warga bali yang menjaul hasil karyanya ke konsumen luar negeri. Namun tanpa diketahui konsumentersebut malah mematenkan hasil karya tersebut sebagai desain dari luar negeri, sehingga ketika warga Bali ini hendak mengekspor hasil karyanya ternyata dia harus beurusan dengan WTO karena dianggap telah melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs). Sesungguhnya desain tersebut telah dimiliki dan merupakan warisan dari leluhur masyarakat Bali itu sendiri. Namun ada juga kejadian perebutan hak paten yang terjadi di dalam negeri ini sendiri yang dimana kedua belah pihak telah mematenkan hak ciptanya. Namun salah satu pihak menganggap bahwa karya lainnya merupakan plagiat dari hasil karya yang telah mereka buat.

Tari Reog Ponorogo dengan Tari Barongan Malaysia
Dikisahkan di dalam Asal Usul Reog Ponorogo telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.
Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.
Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.

Tempe yang diklaim oleh WN Jepang
Tercatat ada 19 paten tentang tempe, di mana 13 buah paten adalah milik AS, yaitu: 8 paten dimiliki oleh Z-L Limited Partnership; 2 paten oleh Gyorgy mengenai minyak tempe; 2 paten oleh Pfaff mengenai alat inkubator dan cara membuat bahan makanan; dan 1 paten oleh Yueh mengenai pembuatan makanan ringan dengan campuran tempe. Sedangkan 6 buah milik Jepang adalah 4 paten mengenai pembuatan tempe; 1 paten mengenai antioksidan; dan 1 paten mengenai kosmetik menggunakan bahan tempe yang diisolasi. Paten lain untuk Jepang, disebut Tempeh, temuan Nishi dan Inoue (Riken Vitamin Co. Ltd) diberikan pada 10 Juli 1986. Tempe tersebut terbuat dari limbah susu kedelai dicampur tepung kedele, tepung terigu, tepung beras, tepung jagung, dekstrin, Na-kaseinat dan putih telur.
Makanan Daerah yang tergantikan oleh makanan dari Luar Negeri
Sekarang ini banyak sekali makanan daerah yang tergantikan terutama didaerah pariwisata. Sebenarnya tidak ada kerugian yang akan dialami oleh negara, namun jika dilaihat dari segi lain maka akan merugikan karena para penerus bangsa mendatang mungkin tidak akan tahu apa makanan daerah yang mereka miliki. Penyebab utamanya yaitu danya investor asing yang ingin memajukan perekonomian daerah pariwisata dengan membangun restoran cepat saji ataupun sejenis kedai junkfood. Masyarakat sekarang ini khususnya anak – anak muda, berpikir makanan daerah sudah ketinggalan jaman sehingga mereka berusaha untuk mengikuti tren yang ada. Semua itu tak lain juga akibat dari globalisasi apalagi sarana dan prasarana telah memadai bahkan terpenuhi.

Berikut ini adalah beberapa daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan atau diklaim oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain:
i. Batik dari Jawa oleh Adidas
ii. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
iii. Naskah Kuno dari Sumetera Barat oleh Pemerintah Malaysia
iv. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
v. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
vi. Rendang dari Sumetera Barat oleh Oknum WN Malaysia
vii. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
viii. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
ix. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
x. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
xi. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
xii. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
xiii. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
xiv. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
xv. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
xvi. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
xvii. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
xviii. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
xix. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
xx. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
xxi. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
xxii. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
xxiii. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
xxiv. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
xxv. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia

by: andy setyo w, 060310083 p

perikanan unair, surabaya, jawatimur, indonesia, asia tenggara.

hp : 085655195186, nilotica86@yahoo.com

3 Warisan Budaya Dunia yang ada di Indonesia



Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Struktur Borobudur



Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.

Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.

Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Relief



Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur disetiap tingkatnya, mulainya disebelah kiri dan berakhir disebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan langkan candi

Karmawibhangga

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri ( serial ), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Lalitawistara

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum" ,sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari mahluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa / perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju keringkat ke buddha an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

__________________
Reply  With Quote
#2
Old 20-10-2008, 11:08 AM
komodo_tea's Avatar
komodo_tea komodo_tea is offline
Moderator
Share Aja
Join Date: Apr 2008
Location: dimanapun kau membayangkannya
Posts: 4,250
Rep Power: 14
komodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond repute
Default

Tahapan pembangunan Borobudur

* Tahap pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

* Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

* Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

* Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur

* 1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.

* 1873 - monografi pertama tentang candi diterbitkan.

* 1900 - pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.

* 1907 - Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.

* 1926 - Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.

* 1956 - pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.

* 1963 - pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.

* 1968 - pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.

* 1971 - pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.

Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO
Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO

* 1972 - International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.

* 10 Agustus 1973 - Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984

* 21 Januari 1985 - terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi.

* 1991 - Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

2. Candi Prambanan



Komplek Candi Prambanan terletak di perbatasan Sleman dengan Klaten tepatnya di Karangasem, Desa Bokoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pencapaian tersebut melalui jalan raya Jogja-Solo ke arah Timur. Pada Km 16 di sebelah utara jalan raya tersebut tampaklah bangunan candi yang megah. Candi utama komplek Prambanan ini menghadap ke arah timur, sehingga kita memasuki candi tersebut dari arah timur.

Komplek Candi Prambanan terbagi atas tiga halaman yang memusat. Halaman pertama dikelilingi pagar berukuran 330mx330m. Halaman kedua memiliki tembok keliling berukuran 220mx220m, sedangkan halaman pusat atau halaman ketiga berukuran 110mx110m. Ketiga halaman tersebut masing-masing dihubungkan oleh gapura yang searah dengan penjuru mata angin. Di halaman pertama tidak ada bangunan, sedangkan di halaman kedua terdapat 224 candi Perwara yang disusun menjadi empat deret.

Memasuki halaman pusat tampaklah 16 bangunan candi. Candi Siwa merupakan bangunan yang paling tinggi diapit oleh Candi Brahma di sebelah selatan dan Candi Wisnu di sebelah utara. Di depan Candi Siwa terdapat tiga buah candi masing-masing adalah candi Nandi, Candi A dan Candi B. Di halaman ini juga terdapat dua candi Apit, empat candi Kelir (masing-masing berada di pintu gerbang) dan empat candi Sudut

Sejarah



Berdasar arca Dewa dan reliefnya, dapat diketahui bahwa komplek candi Prambanan merupakan tempat pemujaan bagi umat Hindu. Sebuah prasasti yang dapat dihubungkan dengan percandian Prambanan adalah prasasti Siwagrha (778 S / 856 M). Prasasti tersebut menyebutkan adanya peresmian sebuah bangunan suci untuk dewa Siwa. Kemudian nama raja Jatiningrat (Rakai Pikatan) yang harus berperang dengan Balaputra, dan setelah menang kemudian Ia menyerahkan tahtanya kepada Dyah Pitaloka (Rakai Kayuwangi 851-882 M). Dalam prasasti itu menyebutkan pula secara rinci tentang komplek bangunan suci agama Hindu. Juga penyebutan tentyang Dwarapala, petirtaan pada gugusan candi, serta pengalihan aliran sungai yang menyusuri sisi-sisi halaman candi.

Keseluruhannya diperkuat dengan diketemukannya tulisan-tulisan pendek dengan cat putih, hitam dan merah yang menyebutkan nama "Pikatan" pada batu pembentuk halaman candi.

Kegiatan Pemugaran

Pada tahun 1733 Masehi, candi ini ditemukan oleh C.A Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Masehi Izerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. beberapa saat kemudian Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang sungai Opak. Pada 1902-1903 Van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993 [1].

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.

Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m.

Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.

Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta.

Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya.

Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang.

Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu.

Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.





Gempa bumi 2006

Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk di sana. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma

__________________
Reply  With Quote
#3
Old 20-10-2008, 11:18 AM
komodo_tea's Avatar
komodo_tea komodo_tea is offline
Moderator
Share Aja
Join Date: Apr 2008
Location: dimanapun kau membayangkannya
Posts: 4,250
Rep Power: 14
komodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond reputekomodo_tea has a reputation beyond repute
Default

3. Situs Purbakala Sangiran



Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km² dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu. Secara administratif Sangiran terletak di kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut.

Di museum Sangiran yang terletak di wilayah ini juga dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.

Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.

RIWAYAT PENELITIAN



Pada tahun 1934, G.H.R. on Koenigswald melakukan penelitian di Sangiran dan menemukan alat-alat serpih di Desa Ngebuk yang terbuat dari bahan kalsedon dan jasper. Alat-alat bantu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan "Sangiran Flakes-Industry". Koenigwald memperkirakan peralatan ini berasal dari akhir Pleistosen Tengah karena ditemukan pada lapisan kabuh (Koenigswald, dan Ghosh, 1937). Pada tahun 1936, untuk pertama kalinya von Koenigswald menemukan Fosil manusia yaitu berupa fragmen rahang bawah (mandibula) kanan yang ditemukan pada lapisan Pucangan bagian atas dan diberi kode Sangiran 1b. Kemudian pada tahun berikutnya 1937, menemukan fragmen tengkorak (Sangiran2) pada lapisan Kabuh di antara Desa Bukuran dan desa Kertosobo tepatnya ditepi kalicemoro (Koenigswald, 1940 via Widianto, et.al., 1996). Fragmen tengkorak (Sangiran3) yang ditemukan Koenigwald dan dipublikasikan oleh F.Weidepreich pada tahun 1943 dilapisan yang sama (Weidenreich,F.,1945).

Kemudian pada mas berikutnya penelitian dilanjutkan oleh ahli Paleoanthropologis dari Indonesia yaitu antara lain T.Jacob dan Sartono yang menemukan fragmen rahang bawah (Sangiran8) pada lapisan Grenzbank, rahang bawah (Sangiran 9) dan tengkorak (Sangiran 17). Penemuan ini merupakan penemuan yangg istimewa karena berhasil menemukan tengkorak yang paling lengkap beserta gambaran wajahnya (Sangiran 17). Berdasarkan penelitian palaeoanthropologis didapatkan adanya beberapa ciri morfologi dari temuan jenis-jenis manusia purba yang ada di Sangiran. Pada lapisan Pucangan telah ditemukan pula fosil-fosil yang menunjukan tingkatan morfologi lebih arkaik, yaitu fragmen tengkorak (Sangiran 4), rahang bawah (Sangiran 5 dan Sangiran 6a). Berdasarkan karakter masing-masing tersebut maka manusia dibedakan beberapa taxon yaitu : Pithecanthropus erectus berupa atap tengkorak (Sangiran 2 dan 3); Meganthropus palaeojavanicus berupa rahang bawah (mandibula) kanan (Sangiran 6a), beberapa taxon ini sekarang dikenal dengan sebutan Homo erectus (Widianto,et.al.,1996).

Selain itu penelitian juga dilakukan oleh instansi-instansi terkait seperti Balai Arkeologi Jogyakarta baik bekerjasama dengan Laboratorium Palaeonthorpologi maupun Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi (Bandung) dan pihak Jepang meneliti tentan endapan yang mengandung manusia purba. Penelitian-penelitian serupa terus berlanjut dalam usaha mengungkap tentang misteri yang tyerkandung di KUBAH SANGIRAN. Pusat Penelitian Arkeologi Jakarta bekerjasama dengan Museum National d”Histoire Naturelle(Perancis) juga telah melakukan sejumlah penelitian yang berhasil mengungkap tentang Paleokologi atau lingkungan alam masa purba yang dilakukan oleh A.M.Semah.



sumber : (Unesco ; wikipedia ; sangiran.info ; Borobudurpark.com ; dll)
__________________
Reply  With Quote